23 Mei 2025
Penulis: Arman Seli
Resiliensi sebuah istilah yang kerap dijumpai ditengah Covid-19 hingga saat ini. Hal ini merujuk pada kemampuan komunitas atau kelompok tertentu dalam bertahan disituasi yang tidak pasti. Tidak hanya bagi manusia, kemampuan untuk bertahan ini juga berlaku untuk makhluk hidup lainnya seperti hewan atau tumbuhan.
Bagi masyarakat di Komunitas Adat Nggolo, Sulawesi Tengah, khususnya di Kampung Puntana, terdapat salah satu perwujudan resiliensi dalam bentuk tanaman yang sudah dikenal sejak zaman leluhur. Adalah Punde atau sejenis padi ladang, yang menjadi ciri khas Kampung Puntana yang memiliki berbagai varietas. Punde berfungsi untuk cadangan pangan biasanya dikonsumsi jika ada tamu yang dianggap penting dari luar kampung hingga ketika situasi sulit melanda.
Puntana adalah kampung yang dihuni oleh 16 kepala keluarga, dan setiap keluarga masih tekun menjaga tradisi menanam punde. Bagi mereka, menanam punde bukan hanya sekadar kebutuhan pangan melainkan bagian dari menjaga hubungan dengan leluhur, alam semesta, dan Sang Maha Pencipta.

Menurut pengakuan Mebune, seorang totua (tetua) yang ahli dalam padi ladang, tradisi itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini masih dipegang teguh dan dipraktekkan.
Menurut dia, dalam menanam padi ladang mulai dari nantalu (membuka lahan) (nantalu) hingga nokato (panen) ada berbagai proses yang harus dilakukan.
Dalam bahasa Kaili Unde, ia mengatakan“Iya ane no punde, nantalu ghu, naliungga sa’a ane nompadu kayu nolopi mo”. (Iya, kalau menanam padi ladang, awalnya membuka lahan dulu. Setelah itu membersihkan kayu-kayu yang sudah di tebang, kemudian dibuatkan adatnya atau Nolopi).
“Naliungga sa’a vomo, da naghiapa to nipovia, ane polopi botu tolunggani nipovia sampe nompaliu. (Setelah itu, masih ada yang dilakukan, Nolopi dilakukan sebanyak tiga kali sampai pada pesta syukuran atas panen)”, lanjutnya.
“Ane ni tuja, naghia koyo, naghia vo pulu.” (Kalau jenis yang ditanam ada pulut dan ketan) sambungnya.
Kata Mebune, di Puntana saat ini ada puluhan varietas padi ladang yang hingga kini disimpan dengan baik.
“Patirangga, tomai, sikuru batu, ntomai, tinggaloko, pulugguni/pungguni, tolebana, njoili, togadera,” sebut Mebune mengatakan satu per satu varietas punde.

Padi Berjiwa Manusia
Dalam mitologi masyarakat adat Nggolo dipercaya bahwa punde berkaitan erat dengan manusia. Mebune menuturkan bahwa pada zaman dahulu terdapat tujuh saudara, dua di antaranya adalah manusia dan punde.
Punde adalah dahulunya adalah manusia yang seorang yatim piatu. Ketika pamannya membuka ladang (nantalu), ia pergi ke ladang yang telah dibuka oleh pamannya. Kemudian Punde menggulingkan badannya di ladang tersebut dan akhirnya menjadi Padi.
Alkisah, jika ada orang-orang yang mempunyai nabalia (kemampuan khusus) sedang memotong padi, kerap mereka melihat ada darah keluar dari tangkai padi ladang. Hal inilah yang menjadi keyakinan bahwa punde juga memiliki jiwa layaknya manusia.
Dalam rangkaian tradisi panen padi ladang, ada ritual nobalia atau nyanyian semalam suntuk dengan berbagai syair sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang didapatkan.
Mebune juga menjabarkan nama-nama dade (syair) yang dilantunkan dalam nobalia, yaitu Njalisa, Roya, Sebone Ndate, Sebone Mbuku, Ndue, Eja, Kamai, Namo, dan Mpanamo.
“Syair-syair balia juga memiliki makna mengucap syukur dan meminta agar panen selalu diberikan hasil yang melimpah,” terang Mebune.
Mebune menjelaskan dalam rangkaian ucapan syukur pada Sang Pencipta atau pesta panen diwajibkan semua kepala keluarga yang memiliki padi ladang agar menyiapkan ayam dan sompo atau perlengkapan syukuran. Sompo terdiri dari dulang, parang, piring putih dan sirih, pinang, kapur atau disebut dengan sambulu gana.
“Ayam sebagai wadah untuk memohon kepada Maha Pencipta agar selalu diberikan kebaikan. Dalam melihat hati ayam ini masyarakat Puntana menyebut dengan Nompepoyu.
Ada pantangan dalam menanam hingga panen, bahkan keseharian dalam kehidupan sosial, yakni, tidak boleh mengucapkan kerbau putih dalam bahasa Kaili.
